Bagaimana pendapat agan tentang cerpen ini ?

Selamat Pagi agan dan agan dan aganwati sekalian. Di hari yang cerah ini ane mau share cerpen buatan ane. ane juga minta pendapatnya yang membangun gan karena ane masih newbie . langsung saja ke TKP :

,Quote:

Dimana Tempatku? Part 1

Seperti biasa, Hana selalu berdiam diri di tempat duduknya dengan headset menempel di telinganya dan sepetinya dia antusias dengan buku matematikanya. Dia memang terlihat agak aneh, tidak seperti murid lain yang pergi ke kantin atau bermain di kelas saat jam istirahat terutama kelas 11 A ini. Aku sempat berpikir apakah dia kesepian atau malah nyaman dengan keadaan seperti itu.

Kali ini aku mencoba mendekatinya karena aku bosan setiap hari aku memperhatikannya dan tidak melakukan apa-apa. Yah, mungkin saja dia bisa jadi sahabat atau mungkin pacarku. Tapi lucu juga jika dia jadi pacarku, aku dengan tampang pas-pasan ini pacaran dengan hana yang bisa dibilang cantik, apalagi dia anak walikelas kami. Apa salahnya mencoba.

“Hei, ngapain?” aku harap dia mendengarnya mengingat headsetnya masih dia pakai.
“Ngapa-ngapain kok, Cuma belajar” ini permulaan yang bagus bagiku, aku terus berbicara dengannya. Ternyata dia asik juga diajak ngobrol.
“Gimana kabar ayah sama ibumu?”
“He?” aku bingung kenapa dia tiba-tiba menanyakan keadaan orangtuaku
“Lupakan” dengan senyuman aneh di raut wajahnya.

Bel masuk berbunyi. Aku kembali ke tempat dudukku dan bersiap untuk pelajaran selanjutnya. Guru pangajar mulai memasuki kelas dan memulai pelajaran.

“oy, kamu tadi bicara ama si Hana ya?” sahut Hilman tengah pelajaran. Dia teman sebangkuku
“Iya, Emang kenapa?”
“Baru kali ini aku liat dia bisa bicara santai banget kyak tadi, emang kamu punya hubungan ya sama dia ?”
“Entahlah, aku juga ngerasa kayak dia tahu tentang aku, jangan-jangan aku ama dia jodoh”
“Kampret, dasar jones”
“Mas, bisa diem gk!” kata Ibu pengajar melihat ke arah Hilman.
“Iya bu, maaf, tuh kan malah aku yang kena” bisik Hilman.
“Rasain”. Kami memang sering bercanda di tengah pelajaran. Kami juga sering di tegur guru pengajar terutama Hilman.

Sepulang sekolah, aku mulai membaca buku pelajaran mengingat sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Pikiranku masih terganggu sikap hana tadi di sekolah, seakan-akan dia yang malah memperhatikanku, aku melanjutkan membaca buku tanpa memikirkan hal itu lagi. Suara sepeda motor terdengar sampai ke kamarku, itu pasti ayah pulang kerja. Kami tinggal berdua di rumah ini.

Ayahku bekerja di Kantor Pelayanan Pajak di Kota ini. Dia bekerja keras untuk mencapai penerimaan negara. Ya, dia adalah pegawai pajak. Dia yang selama ini merawatku dengan susah payah. Bagiku dia ayah yang paling keren. Jika besar nanti, aku ingin menjadi seperti ayahku.
Kemudian dia menghampiri kamarku.

“Ko, mamamu dua minggu lagi pulang dari dubai” kata ayah sambil tersenyum. Tapi, dia tidak bisa menyembunyikan rasa letih yang sangat nampak di wajahnya. Mungkin banyak pekerjaan yg harus dilakukan di kantor, atau mungkin malah dimarahi oleh atasannya yang korup itu.

“Benarkah?” aku sangat gembira karena sudah 5 tahun aku tidak bertemu ibuku karena dia bekerja sebagai TKI.
“kayaknya mama tinggal disini salama dua bulan sebelum kembali lagi ke Dubai”. Mendengar itu aku langsung mengambil buku yang tadi kubaca dengan harapan memperoleh nilai bagus dan bisa membuat bangga ibuku.

Hari ujian telah tiba, peralatan untuk ujian telah kupersiapkan semalam. Ayah mengantarku ke sekolah. Sesampainya di sekolah di menyemangatiku, kemudian pergi ke kantornya denga sepeda motornya itu. Tentu saja aku akan mengerjakan soal ujian dengan maksimal. Aku tidak ingin ibuku pulang jauh-jauh dari Dubai hanya untuk kecewa melihat nilaiku yang buruk.

Hari demi hari terus berlalu, soal ujian selalu ku kerjakan dengan maksimal. Tak peduli pengawasnya santai atau killer, mungkin Hilman juga mengerjakan soal ujian dengan santai. Dia selalu mempunyai strategi yang antimainstream agar bisa menjawab soal ujian, lalu bagaimana Hana? Ah, dia kan sudah belajar bahkan jauh sebelum ujian dilaksanakan.

Ujian terakhir baru selesai, lega rasanya telah mengerjakan soal-soal sulit itu. Hilman keluar kelas dengan senyumnya yang mengerikan itu. Dia tampak sangat senang setelah ujian berakhir, kemudian kami pergi ke kantin membicarakan rencana liburan kami masing-masing. Hana terlihat selalu memperhatikanku. Akhir-akhir ini dia memang begitu, dia selalu memalingkan wajah ketika ku balas melihat kearahnya.

Sesampainya dirumah, terlihat sepatu perempuan dan sepatu kantor ayahku tergeletak di depan rumah. Aku langsung disambut pelukan hangat ibuku yang baru datang dari Dubai. Kami berdua menangis gembira melepas rindu, ayahku hanya berdiri dan tersenyum melihat kami. Setelah itu kami terus-terusan mengobrol menceritakan apa yang terjadi selama lima tahun terakhir ini. Di liburan ini aku mengusulkan untuk pergi ke tempat wisata di dekat kota. Tempat itu sangat populer akhir-akhir ini dan mereka menyetujuinya dan berencana berangkat lusa karena ibukku mungkin masih kelelahan.

Hari ini adalah hari yang telah direncanakan. Kami pun berngakat ke tempat itu dengan mobil. Kami mencoba semua wahana yang ada di sana. Kami bersenang-senang seharian. Inilah liburan yang aku idamkan sejak lama. Kemudian terdengar suara orang memanggilku dari jauh. Itu Hana, dia mendekat ke arahku disusul orang tuanya. Aku pun berbincang-bincang dengan Hana, begitu pula orangtuaku denga orangtua Hana.

Mungkin mereka membicarakan bagaimana sikapku di kelas. Tapi, aku merasa ada yang aneh di pada sikap mereka. Mereka tampak kaget melihat orangtua Hana dan seperti telah kenal lama tapi tidak memberitahukannya padaku padahal, aku baru bertemu hana pada awal semester dua kelas 11.

Hari semakin sore, kami pun berpisah dengan keluarga Hana. sebelum berpisah, ayah Hana mengelus-elus kepalaku dengan tersenyum. Aku merasa aneh dengan sikap itu. Sesampainya di rumah, aku bertanya pada orangtuaku

“mama sama ayah, kenal sama ayahnya Hana ya ?”
“iya, dia teman lama ayah waktu kuliah dulu” jawab ayah, ibuku hanya tersenyum.
Tapi aku masih heran dengan sikap ayah hana padaku saat itu. Aku berencana menanyakan hal itu pada hana ketika nanti masuk sekolah.

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan telah tiba, murid kelas 11 A naik kelas 12 100%. Aku senang mendenganya, hanya tinggal menunggu nilai rapor di bagikan. Aku, Hilman, dan Hana tetap satu kelas. Walikelas baru kami memasuki kelas, lagi-lagi ibu hana yang menjadi wali kelas kami. Dia mulai memamnggil satu persatu nilai rapor kami. Saat tiba giliranku aku bertanya tentang hubungan ayahku dan ayah Hana. Pikirku itu adalah saat yang tepat.

“Oh… mereka cuma teman lama yang jaranag ketemu?” jawab ibu Hana. Tapi aku masih ragu dengan jawabannya. Jika kutanya lagi mungkin malah akan semakin tidak jelas. Jadi akan menanyakannya pada Hana sepulang sekolah.

Sepulang sekolah aku dan Hana menunggu kelas sepi untuk membicarakan hal itu.
“Han, kamu tau gak sebenernya apa hubungan orangtua kita?”
“kamu beneran pingin tahu?”
“Iya” aku semakin penasaran
“besok aku ceritain”

Keesokan harinya aku menemui Hana seperti yang di jajnjikan. Dia menunjukkan foto ayahnya dengan teman-temannya saat kuliah. Di sana ada seorang wanita cantik yang bergandengan dengan ayahnya hana
“sepertinya aku kenal orang ini” aku mennjuk ke foto itu
“sebenarnya itu ibumu, dia berpacaran dengan ayahku saat itu”
“oh… jadi ternyata ibuku mantan pacar ayahmu toh..” aku tertawa, ternyata hanya nostalgia seorang mantan pacar.
“tidak sesimpel itu, awalnya ku juga gak tau, tapi waktu aku menemukan foto ini dan menguping pembicaraan orangtuaku aku langsung tahu” sahut Hana
“maksudnya?” aku pun semakin bingung. Kemudian Hana bercerita panjang padaku
“Intinya kamu bukan anak murni dari orang tuamu”

Mendengar hal itu, aku langsung pulang. Tanpa basa-basi aku mengemasi barang-barangku dan pergi meninggalkan rumah meskipun aku tak punya tujuan. Kemudian, aku meletakkan pesan singkat untuk kedua orangtuaku. Itu lebih baik daripada tinggal bersama keluarga yang seperti ini. Aku berjalan menyusuri jalan dengan rasa kesal karena mereka tidak memberitahuku yang sebenarnya hingga aku bertemu ayah Hana di jalan.

Sekian cerpen singkat ane yang masih ada lanjutannya jangan lupa pendapatnya gan
gak cuma minta pendapat gan, yang ijo-ijo juga ane terima juga minta
TERIMA KASIH