Nyonyah dan Juragan sekalian,
ini tentang novel pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. 6 bulan sejak diumumkan sebagai pemenang, naskah yang berjudul Kambing dan Hujan ini diterbitkan oleh Bentang.
Tidak butuh waktu lama untuk publik merespon buku ini. Berbagai komunitas di Jakarta dan Yogyakarta segera merespon kelahiran buku ini dalam berbagai kegiatan mulai dari bedah buku, diskusi, membaca bersama, sampai membaca dramatis (dramatic reading).
Mahfud Ikhwan berpidato sebagai Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014 | Jakarta, Desember 2014
Sampul yang catchy dan judul yang unik —menyandingkan kambing dengan hujan?— barangkali akan menjadi satu-satunya alasan orang membeli buku ini. Nama pengarangnya memang masih sayup-sayup di telinga. Sebelumnya ia memang pernah merilis novel berjudul ‘Ulid Tak Ingin ke Malaysia’ (2009) namun tak cukup bergema di pentas sastra. Nama Mahfud Ikhwan tiba-tiba menjadi pemberitaan luas di pengujung tahun lalu, ketika diumumkan sebagai Pemenang I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Kini, naskah tersebut diterbitkan dan telah beredar di toko buku sehingga bisa dinikmati oleh sidang pembaca.
Dalam berbagai pemberitaan kala itu disebutkan bahwa naskah berjudul ‘Kambing dan Hujan’ tersebut mengangkat kisah cinta remaja NU dan Muhammadiyah. Terdengar begitu menantang, bukan? Aroma “cinta terlarang” memang langsung terasa sejak cerita dibuka. Namun, menyebut bahwa ini “kisah cinta remaja” ternyata tidaklah sepenuhnya benar. Kisah dibuka dengan sepasang anak muda yang saling jatuh cinta, Mif dan Fauzia, yang tengah bertekad harus segera mencari jalan penyelesaian dari persoalan mereka, karena tidak bisa terus-menerus lari dan menghindar. Masalah apa?
Dari sinilah, cerita “yang sesungguhnya” bergulir. Dengan panggung sebuah desa santri di Jawa Timur, keluarga Mif dan keluarga Fauzia adalah Montague dan Capulet dalam kisah cinta abadi karya Shakespeare. Bapak-bapak mereka dulu, Is dan Mat, berseteru, awalnya karena perbedaan “ideologi”. Namun, novel ini memberi pembacanya lebih dari yang bisa diharapkan. Pertentangan dua sahabat di tengah drama ketegangan antara tradisi versus modernitas berkembang secara tak terduga menjadi persaingan memperebutkan seorang perempuan.
Asmara Mif dan Fauzia membongkar kembali luka lama itu, sekaligus menjadi pintu masuk bagi terjadinya sebuah ziarah ke masa lalu untuk menata kembali masa depan. Dengan latar waktu yang terbentang dari masa kini ke belakang hingga ke masa pra-tragedi 1965, tak pelak novel ini menjadi sebuah risalah sejarah sosial yang merekam banyak kejadian penting dalam perjalanan politik bangsa. Desa Centong dan para penghuninya adalah miniatur dari Indonesia, yang tengah mengalami transformasi dan perubahan sosial-politik besar-besaran, yang tak jarang harus ditanggung dengan rasa sakit.
Tentu saja, sebuah novel bukan dokumen sejarah ataupun risalah sosial. Namun, kekentalan unsur-unsur di luar “fiksi” dalam novel ini ada kalanya tak bisa ditolak, menjadikan teks ‘Kambing dan Hujan’ terasa sebagai sebuah reportase atau hasil penelitian. Untungnya, Mahfud tak hanya berkisah dengan lancar namun juga mengemasnya dengan teknik yang matang. Keberaniannya untuk mengolah detail, dan bukan menggali sensasi pada peristiwa-peristiwa besar nan mengguncang, menjadi pertaruhan untuk membuat novel ini tak membosankan. Dan, lagi-lagi kabar gembiranya, Mahfud berhasil.
Terlihat benar bahwa pembuat novel ini bukanlah seorang penulis “bakat alam” yang hanya menggantungkan diri pada jargon kekinian generasi digital bahwa “semua orang bisa menulis” atau bahkan “menulis itu gampang”. Lewat novel ini Mahfud seolah menunjukkan bahwa menulis itu sulit, dan ia melakukannya dengan benar. Narasinya mengalir, dengan sudut pandang yang “seenaknya” berganti-ganti secara mengejutkan; hanya penulis dengan kematangan teknik dan kekayaan referensi yang bisa melakukan itu dengan demikian baiknya.
Di ranah film, publik pernah dibuat terpesona oleh kisah cinta ala Romeo-Juliet karya sutradara Andibachtiar Yusuf yang dengan menggelitik mengangkat kisah cinta anggota dua kubu penggemar klup sepak bola yang merupakan musuh abadi, Viking dan Jakmania. Hasilnya adalah sebuah drama yang keras dan bergelora. Pada ‘Kambing dan Hujan’ pembaca akan mendapatkan kenikmatan lebih, dengan gaya penuturan ala Kisah 1001 Malam yang mengikat rasa penarasan, sekaligus efektif menggerakkan motif-motif para karakternya. Inilah sebuah narasi yang ditarik-ulur dengan jeda-jeda yang diperhitungkan, dan dirajut dengan sabar; rapi dan lembut.
Bila semua kisah cinta pada dasarnya memang kisah Romeo dan Juliet, maka novel ini telah menampilkan versinya semanis kisah klasik, sekaligus mampu menghindari klise layaknya karya-karya kontemporer yang terbaik. Realitas masa kini dikonfirmasi dengan memori masa lalu. Bertemu (kembali) sebagai dua remaja tetangga desa yang tengah menginjak dewasa, menulis opini di Jawa Pos, kesibukan pulang-pergi Surabaya-Jogja naik bus Sumber Kencono, wisuda, memperjuangkan cinta; itulah masa kini bagi Mif dan Fauzia. Sementara, terbentang di belakang mereka, sejarah para bapak sebagai pengembala kambing, kegembiraan membeli kitab untuk pertama kali, pergi dari desa untuk menuntut ilmu, lalu tiba-tiba semua tak lagi sama di masa mereka menginjak usia paro-baya. Puncak keharuan terjadi ketika Is dan Mat, dua lelaki yang kini telah berumur itu, akhirnya bertemu untuk melepas ego masing-masing demi cinta anak mereka. ‘Kambing dan Hujan’ adalah potret bening pergeseran generasi.
Namun, jika sampai di sini barangkali Anda mengira bahwa akhir novel ini mudah ditebak, tunggulah kejutan berikutnya. Dibaca dalam momen Ramadan, novel ini jadi terasa semakin “kontekstual”, karena tak luput mendokumentasikan perbedaan penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal, disertai dengan saling ledek antara dua kubu yang kocak-sinis-sengit. Bagaimana pun, NU tetaplah NU dan Muhammadiyah tetaplah Muhammadiyah. Is dan Mat boleh saja akhirnya berdamai. Dan, Mif dan Fauzia punya anak. Tapi, di satu sisi, ada orangtua yang tak mau punya cucu yang kelak tak bisa baca kitab kuning dan memimpin tahlilan.
Sementara, di sisi lain, ada orangtua yang tak mau punya cucu yang salat (masih) pakai qunut, dan mendirikan Salat Jumat dengan dua kali adzan. Dengan kata lain, novel ini tak lantas berpretensi menganggap bahwa, atas nama generasi yang telah berubah, perbedaan-perbedaan dalam praktik keagamaan itu menjadi tidak relevan. Sebaliknya, perbedaan itu tetap ditampilkan apa adanya, dengan porsi yang “adil”, dan dibiarkan untuk tetap ada di sana.
Sebelumnya, buntunya komunikasi dua keluarga ini hampir membuat Mif dan Fauzia putus asa dalam memperjuangkan cinta mereka berdua. Perbedaan ideologi dalam beragama di dua keluarga tersebut (awalnya) dianggap sebagai tantangan terbesar dalam kisah cinta mereka. Mif yang anak seorang pimpinan Muhammadiyah hendak mempersunting Fauzia yang anak pimpinan Nahdatul Ulama. Sebuah hal yang hampir mustahil terlaksana.
Meski dalam perjalanannya, terkuak juga kalau konflik dua sahabat ini bukan sekadar persoalan perbedaan ideologi, namun berkembang menjadi persaingan memperebutkan seorang perempuan. Bukan sekadar ketegangan antara tradisi versus modernitas, tapi juga soal gengsi.
Melalui Mif dan Fauzia lah, Mahfud Ikhwan, penulis roman ini mencoba menampilkan konflik sosial antara dua organisasi keagamaan terbesar yang masih terjadi. Melalui sebuah kisah cinta, tergambarlah kehidupan sosial masyarakat yang hidup berdampingan dalam sebuah perbedaan.
Sebagai novel yang memenangkan sayembara Dewan Kesenian Jakarta, roman ini membuktikan pada pembaca kualitas seorang Mahfud Ikhwan dalam dunia kesusastraan Indonesia. Narasi yang mengalir, pergantian sudut pandang yang rapi, dan kedalaman materi membuktikan kalau roman ini tidak dikerjakan dengan mudah. Dibutuhkan riset lapangan yang cukup untuk menggambarkan bagaimana kehidupan dua ideologi itu hidup berdampingan.
Dalam sebuah diskusi di Owl House Coffee dua pekan lalu, Mahfud Ikhwan sendiri mengungkapkan kalau ia sendiri memerlukan bertanya pada beberapa orang terkait materi yang diangkatnya ini. “Meski saya hidup dalam lingkungan seperti itu, saya tetap perlu menanyakan beberapa hal pada orang yang lebih paham,” jelas Mahfud.
Memainkan alur maju mundur, jalan cerita novel ini sangat sulit ditebak. Ditambah pergantian sudut pandang dari tokoh-tokoh yang ada, kemampuan penulis menggali informasi dari tokoh-tokoh yang kemudian muncul semakin membuktikan kualitas naskah yang ditulis dalam kurun 10 tahun ini.
Novel ini semakin kontekstual ketika anda baca disaat-saat seperti ini. Menjelang lebaran, akan hadir perdebatan mengenai penentuan 1 syawal. Setiap malam ramadan, akan ada dua jemaah yang solat tarawih dengan 11 rakaat maupun 23 rakaat. Artinya, perubahan generasi tidak lantas membuat perbedaan-perbedaan dalam praktik keagamaan itu menjadi tidak relevan.
Dan dalam hal inilah, Mahfud dianggap mampu menampilkan perbedaan itu dalam porsi yang adil. Meski Mahfud sendiri menyatakan bahwa dia sendiri memijakkan kaki di salah satu sisi. “Seandainya anda baca dengan teliti, anda akan tahu dimana saya berdiri,” tegas Mahfud. Kalau begitu, silahkan anda baca sendiri.
Nyonyah dan Agan, Terima kasih sudah membaca.
Sementara ini dulu ya.
Ane akan update terus. Tapi pelan-pelan sajaaa..