Ini firasat buruk yang dirasakan keluarga korban Hercules



Sebagian keluarga korban tewas jatuhnya pesawat Hercules ternyata telah mendapat firasat buruk akan ditinggalkan oleh orang tercinta. Salah satunya adalah keluarga pilot utama Hercules, Kapten Penerbang Sandy Permana.

Seorang kerabat Sandy, Dwi Sulastriningsih, mengungkapkan firasat buruk itu sebenarnya sudah dirasakan. Namun, saat itu tidak ada satu pun anggota keluarga yang menyangka peristiwa tragis akan menimpa Sandy, pilot kebanggaan keluarga.

“Yang merasakan firasat buruk atau tanda-tanda  itu anak saya yang kecil. Karena terakhir kali jemput Sandy dan keluarganya, anak saya satu mobil dengan beliau,” kata Dwi seperti dikutip dari Liputan6.com, Rabu (1/7).

Saat itu, beberapa hari sebelum Ramadan, tepatnya pada 14 Juni, Sandy seakan mengirimkan firasat buruk untuk keluarganya. Firasat buruk bahwa Sandy akan pergi selamanya itu disampaikan almarhum kepada putri sulungnya. Nasihat itu kebetulan turut didengar oleh anak Dwi.

“Sandy sempat nasihati anaknya yang besar, dia bilang ‘Kakak jangan nakal, nanti kalau ayah enggak ada, kasihan bunda dan adik kalau kakak nakal’,” kata Dwi meniru firasat buruk yang ditinggalkan Sandy.

Ini firasat buruk yang dirasakan keluarga korban Hercules

Reuters

Namun, firasat buruk dari Sandy itu tidak terpikirkan oleh keluarga. Hingga akhirnya,  setelah mendengar kabar kecelakaan pesawat Hercules, barulah keluarga mengingat kembali firasat buruk yang disampaikan alumni SMU Taruna Nusantara itu.

“Begitu kita semua tahu kalau Sandy kena musibah begini, anak saya bilang tadi pagi, kalau Sandy pernah ngomong begitu. Ya kami sekeluarga jadi kaget dan terus ingat firasat buruk dari Sandy,” ucap wanita yang akrab disapa Wiwi itu.

Firasat buruk yang dirasakan keluarga Serda Ainul Abidin lain lagi. Kepada mertuanya, Oma Amir, Serda Ainul sempat mengatakan akan menjaga anak dan istrinya sampai akhir hayat. Pesan itu disampaikan Seda Ainul saat menjemput istri dan dua anaknya ke Ranai, Tanjung Pinang, menumpangi Hercules nahas itu.

“Bapak tenang saja, saya akan menjaga anak dan istri sampai akhir hayat,” kata Amir, menirukan ucapan Ainulsaat itu.

Ucapan itu meluncur dari mulut Ainul saat Amir meminta agar Ainul tidak membawa anak dan istrinya ke Ranai. Firasat buruk dirasakan Amir saat mereka berpamitan pada malam hari sebelum kejadian.


Menurutnya, pihak keluarga sejak awal berat melepas keberangkatan mereka. Istri Ainul, Tri Astuti Indah Sari, 35 tahun menangis saat berpamitan kepada kedua orangtuanya.

“Anak saya menangis kepada ibunya malam sebelum keberangkatan,” ujarnya.

Amir sempat meminta Ainul menunda keberangkatan hingga Kamis depan menggunakan pesawat komersil. Namun karena masa izinnya segera habis, dia tetap berangkat membawa anak dan istrinya naik Hercules agar cepat kembali bertugas.

Ainul merupakan personil TNI Angkatan Darat yang bertugas di Kodim, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau. Dia bertugas di sana sejak September 2014. Sebelumnya dia bertugas di markas Arhanudse, Kubang, Kampar.

Firasat buruk juga dirasakan oleh Afriana, putri dari Pelda Agus Pur, salah satu korban Hercules jatuh. Sampai saat ini, Afriana masih bisa mengenang pesan terakhir yang dia kirim kepada sang ayah. Hanya saja, pesan yang dikirim lewat aplikasi WhatsApp (WA) itu tak akan pernah lagi bisa dibalas oleh ayahnya.

“Sebelumnya kecelakaan, saya diminta mama untuk menghubungi ayah lewat WA. Pesan berbunyi ‘Bapak sekarang di mana?’ itu baru terkirim pukul 12.59 WIB. Sekitar pukul 12.30 WIB, mama nangis minta saya nonton TV,” ungkap Afriana.

Usai kabar jatuhnya Hercules menguasai berbagai media, Afriana pun mencoba menghubungi Agus yang ternyata gagal karena HP-nya sudah tak tersambung. Hanya saja sebelum kepergian sang ayah, Afriana sempat mengenang sebuah kejadian yang cukup aneh.

“Sebelum berangkat, ayah menyerahkan buku tabungannya ke mama. Saya selalu diingatkan agar nurut sama mama. Rupanya itu firasat buruk yang batu saya sadari sekarang,” ujar Afriana.


Share this: